Khayalan tingkat tinggi (it’s about NIKAH)

Belum lama ini ramai dunia aktivis disibukkan dengan gosip pernikahan alias munakahat. Jujur kalau mendengar kata nikah dan padanannya dari berbagai bahasa dunia saya merasakan sebuah kelembutan, seperti lembutnya kapas dan bulu-bulu boneka berwarna pink. Itulah yang terlintas dalam benak saya ketika mendengar atau menyebutnya, Nikah.

Nikah juga merupakan pembicaran yang saya rasa jadi topik hangat di forum-forum khusus ikhwan dan tentu saja forum khusus akhwat juga. Apalagi bagi mereka yang berusia 20 tahun keatas. Topik yang memiliki relasi dengan nikah biasanya adalah lawan jenis, ikhwan shalih atau akhwat shalihat, kakak angkatan yang baru nikah dan bukin iri karena kemana-mana berdua, adek angkatan yang udah nikah dan bakal segera memiliki anak yang membuat hati bertanya, “Kok cepat, ya?” hingga ngomongin MR yang belum nikah-nikah (soalnya pada takut ngelagkahi sang MR). and many more related topic.

Suatu hari saya berkhayal tentang nikah. Nggak tahu pemantiknya apa, tiba-tiba pikiran saya ngelantur berandai-andai jika mempunyai pasangan hidup. Seperti layaknya ikhwan bodoh lainnya, kali ini lanturan saya juga tidak menghasilkan apa-apa melainkan kesimpulan pribadi, “Saya belum siap nikah, ho ho ho”. So, sampai sekarang saya tetap saja saya yang ngerasa menjadi superman yang cakep di antara teman-teman lain.

Khayalan ini bermula dengan mencoba merasakan nikmatnya mempunyai pasangan hidup. Ada yang bangunin tidur tiap pagi, menempelkan secangkir kopi susu hangat di pipi agar lekas bangun. Lalu sarapan bareng nasi goreng telur dadar spesial, terus ke kampus bareng karena sama-sama masih kuliah. Sore harinya menunggu sang pasangan yang lagi ngisi mentoring, lalu pulang bareng. Aduh… kira-kira gitu deh khayalannya. Ini mesti gara-gara pengaruh aneh dari teman-teman sesama ikhwan, saya yakin itu.

Khayalan itu terus berlanjut lebih serem lagi, malam-malam berdua lagi nonton Liga Champion sampai gebuk-gebukkan karena mendukung tim yang berbeda. Akhirnya karena tim saya yang menang, terus saya disuruh tidur di luar… ha…ha…ha… khayalan yang aneh. Tapi…weits, kayaknya gak mungkin deh. Tiba-tiba seakan ada perbaikan khayalan. Tidak nonton liga champion bareng dan otomatis tanpa gebuk-gebukkan pula. Hanya sendirian berteman sepi, lalu tertidur di tempat nonton TV. Tiba-tiba dikejutkan untuk bangu shalat subuh, padahal biasanya telat bangun. Saya berpikir, “wah kalau kayak gini ceritanya gak asyik juga tuh menikah.”

Lebih lanjut tetap berhubungan dengan sepakbola, khayalan saya makin terbang tinggi. Buka laptop, main PES. Sejam kemudian dimarahi-marahi, kader ga produktif lah… kerjanya main mulu lah… pantes aja ga punya binaan… ga ada yang bisa dijadiin contoh lah… Pokoknya lengkap deh marah-marahnya. Konon, saya sempat kebayang gaya marah si pasangan itu mirip seorang akhwat teman saya yang lagi marah. Hagh…hagh…hagh… mulai kotor nih pikiran.

Khayalanpun berakhir meninggalkan renungan. Ya iyalah… kalau Cuma berkhayal tanpa ada renungan, menurut saya itu yang namanya tidak punya kerjaan. Setiap peristiwa ada maknanya, termasuk mengkhayal. Pasti ada makna dari khayalan yang singgah beberapa menit itu. Saya mencoba menarasikan khayalan-khayalan tadi dalam suatu pikiran kognitif saya. otak mulai berputar untuk mempersepsikan setiap makna khayalan. Akhirnya muncul beberapa kesimpulan yang rasa penuh makna. Yang pertama, memang nikah itu serasa indah dan nikmat karena itu adalah cinta, dan cinta itu indah. Pantas saja ada adek angkatan yang nyesel kenapa ga’ dari dulu-dulu nikahnya. Yang kedua, kondisi saya saat ini mungkin sudah saatnya menikah, umur 22 tahun lho. Yang ketiga, ini yang membuat saya membatalkan kesimpulan kedua. Saya tidak siap nikah. Alasannya sederhana. Ntar kalau udah nikah, jangan-jangan saya bakal di larang begadang malam-malam nonton Bola biar ga kesiangan shalat subuhnya. Jangan-jangan juga saya terjauhkan dari dunia permainan saya selama ini. PES, Harvest moon, SIMS. Parahnya lagi saya dilarang mendengar musik-musik seperti Cassiopea, Tohpati, Dewa Budjana, musik-musik Jazz, dan lagu lawas Fire House seperti yang ada dalam MP3 saya. oh… tidak….

So… kesimpulan makna dari khayalan liar saya itu adalah menginginkan pasangan yang shalihah yang disebut dengan akhwat berjilbab lebar atau sering disebut juga dengan ustadzah memang keinginan setiap laki-laki normal seperti saya, apalagi saya sempat berniat tidak akan keluar dari jamaah sebelum menikah dengan akhwat. Tetapi untuk sekarang saya belum siap. Belum siap mental karena makhluk cantik dengan jilbab lebar dan shalihah itu sepertinya tidak suka nonton bola malam-malam, main game seharian hingga lupa tugas, dan lebih parah mereka tentu lebih menyukai nasyid daripada musik-musik yang selalu menghiasi telinga dan seluruh kamar kos saya.

Akhirnya khayalan itu berhenti sampai disitu dan saya pun beralih ke MP3 Samsung biru dan memutar satu instrumen Dewa Budjana, “Dreamland”. Yah… kembali deh ke dunia nyata setelah menyelam dalam khayalan tingkat tinggi tentang hidup ini.

Akhirnya bisa nulis lagi (150411)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.