“Barang siapa yang tergesa-gesa mengupayakan (memperoleh) sesuatu hal (yang sebenarnya belum saatnya) maka ia akan tidak mendapatkan apa-apa”

Judul diatas saya ambil dari kaidah ushul fikih yang disampaikan seorang ustad. Kaidah tersebut tampak jelas maksudnya sejelas kalimatnya. Kaidah tersebut memberikan peringatan sekaligu penggambaran tentang akibatnya jika kita ingin menginginkan sesuatu yang belum pada waktunya bisa kita peroleh.

Contohnya, sebelum menulis tulisan ini saya baru kembali dari takziah ke salah seorang anak perempuan lulusan SMP yang meninggal karena kecelakaan. Adalah anak tersebut bersekolah di salah satu SMP islam. Layaknya SMP islam lainnya, sekolah tersebut juga melarang siswa-siswa nya berpacaran. Walaupun begitu tetap saja ada siswa-siswa nya yang secara diam-diam berpacaran, berhubungan dengan lawan jenis. Demikanlah yang terjadi pada anak yang telah meninggal tersebut.

Berita kecelakaan tersebut saya terima siang hari saat makan siang. Kejadiannya pada pagi hari sekitar jam 9 sampai jam 10 an.  Anak itu sebut saja namanya putri berboncengan dengan putra, teman laki-lakinya seangkatan di SMP Islam. Tentu saja berboncengan seperti itu tidak diajarkan di SMP Islam. Sehingga kedua anak tersebut diindikasikan berpacaran. Mau mencoba berprasangka baik, tapi kok sulit ya. Apalagi ada kabar keduanya hendak berpelesir dan ada teman-teman lainnya yang menunggu. Nah loh…

Putra yang mengendarai sepeda motor tentu saja belum punya SIM dan mungkin pula belum begitu mahir menggunakan sepeda motor. Apalagi sebelumnya waktu 3 tahun banyak dihabiskan di asrama SMP Islam. Lalu terjadilah kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa putri. Putra setelah dibawa ke rumah sakit konon tidak menampakkan dirinya, bahkan tidak ikut takziah ke tempat putrid. Hanya ibu dan kakaknya yang dikabarkan hadir mengikuti proses pemakaman Putri.

Ada tiga hal yang membuat Putra mungkin saat sini sedang terkena gangguan mental dan shock yang amat sangat. Yang pertama, Putra tentu saja merasa bersalah karena telah menghilangkan nyawa temannya. Ini jelas sangat mengguncang dirinya dan membuatnya down. Yang kedua apakah Putra ijin menggunakan motor untuk berpelesir ke luar kota? Kalau Iya Putra izin ke orang tuanya, saya yakin tentu saja tidak ia akan tidak diizinkan oleh orang tuanya. Karena Putra belum memiliki SIM. Yang ketiga, dengan 3 tahun pendidikan di SMP tentu saja Putra tahu berboncengan dengan lawan jenis itu tidak boleh, apalagi berpacaran. Dan tentu saja berita kecelakaan itu sampai ke pihak SMP Islam tempat dia bersekolah. Putra pun mungkin tidak berani menampakkan dirinya di depan para guru-guru. Apalagi beberapa guru ikut mengurus jenazah dan pemakaman Putri.

Barang siapa yang tergesa-gesa mengupayakan (memperoleh) sesuatu hal (yang sebenarnya belum saatnya) maka ia akan tidak mendapatkan apa-apa. Berhubungan dengan lawan jenis tentu diperbolehkan. Namun Allah SWT telah mengaturnya dalam sebuah ikatan pernikahan. Dan masa itu akan dicapai oleh manusia setelah dewasa dan matang secara pikiran, fisik, dan mental. Kondisi remaja abg tentu belum matang untuk ketiga hal itu. So pasti berhubungan dengan lawan jenis dengan serius adalah belum waktunya bagi remaja. Akibatnya bisa banyak hal, termasuk peristiwa kecelakaan diatas.

Berhubungan dengan lawan jenis jelas merupakan tugas perkembangan orang dewasa bukan anak remaja. Disana ada ikatan kuat yang mengaturnya. Ada perjanjian dan komitmen yang menjadi pengikat dalam berhubungan dengan lawan jenis. Dan merupakan tipikal orang dewasa, matang secara pikiran, mental, dan fisik sehingga siap mengemban tanggung jawab dan konsekuensi akibat dari hubungan dengan lawan jenis. Beda dengan remaja abege yang belum matang secara pikiran, mental, dan fisik. Mereka tentu saja belum siap dengan tanggung jawab dan konsekuensi dalam berhubungan dengan lawan jenis. Pacaran adalah bukti dari ketidaksiapan bertanggung jawab dan menerima konsekuensi itu.

Namun memahamkan remaja atau anak abege tentang hal ini tampaknya sangat sulit. Ada dua hal utama yang menyebabkan seorang remaja abege melakukan sesuatu yang belum masanya bagi mereka untuk menjalaninya. Pengaruh lingkungan, terutama tayangan televisi dan dinamika anak muda jaman kini. Serta yang kedua adalah proses perkembangan diri mereka sebagai manusia yang sedang pada tahap pencarian jati diri, ingin dianggap dewasa, dan cenderung ingin mencoba hal-hal baru yang mereka ketahui, termasuk hal-hal yang menjadi konsumsi orang dewasa.

Gambar

Barang siapa yang tergesa-gesa mengupayakan (memperoleh) sesuatu hal (yang sebenarnya belum saatnya) maka ia akan tidak mendapatkan apa-apa. Ah… tampaknya remaja juga masih kesusahan dalam memahami kaidah ushul fiqih yang satu ini. Masih banyak tugas bagi para orang dewasa terutama orang tua dan guru untuk mendidik anak-anak remaja menjadi orang yang benar secara agama tentunya. Saat ini saya pun hanya bisa menyesali dalam hati peristiwa kecelakaan itu dan bersedih hati karena nyawa yang hilang hari ini adalah nyawa seorang penerus bangsa. Teriring do’a untuk almarhumah Putri, Semoga Allah memeberikan tempat terbaikNya untukmu, anakku. Juga untuk Putra, Semoga engkau bisa mengambil hikmah dan bisa terus bergerak maju, menjadi pilar bagi negeri ini.

Menghidupkan Kembali Eksistensi Pancasila ditengah Arus Globalisasi

tumblr_inline_mir6pnzFYL1qz4rgpGlobalisasi berkembang dengan pesat karena pengaruh perkembangan teknologi komunikasi. Batas sekat baik ruang dan waktu menjadi tiada dengan kemudahan akses informasi. Al hasil informasi-informasi yang sifatnya global atau mendunia sangat mudah menyebar melewati batas Negara dan bangsa.

Kondisi ini menyebabkan terjadi pula pertukaran informasi-informasi seputar kebudayaan dan nilai-nilai kehidupan yang dimiliki masing-masing Negara dan bangsa. Masyarakat Indonesia pun demikian, semakin banyak mengetahu tentang nilai-nilai dan kebudayaan asing.

Perlu diperhatikan bahwa setidaknya ada tiga jenis manusia Indonesia dalam menyikapi globalisasi.

Tiga jenis manusia itu adalah  yang pertama mereka yang akhirnya meniru kebudayaan asing : ini kebanyakan kita temui pada kaum muda Indonesia. Saya masih ingat ketika dulu demam india melanda, demam manadarin, lalu demam jepang, dan akhirnya demam korea dan boyband seperti saat ini. Pada masa demam-demam itu jurusan sastra masing-masingnya menjadi laris dimasuki anak-anak muda, mahasiswa baru. Kondisi itu pula yang membuat orang tua negeri ini kelimpungan memikirkan akan dibawa kemana masa depan bangsa. Nilai-nilai kearifan bangsa terkikis karena budaya asing lebih menarik bagi generasi muda bangsa. Golongan ini jumlahnya sangat banyak dan menjadi kenormalan saat ini pada generasi muda.

Yang kedua adalah mereka yang tetap memelihara kebudayaan sendiri. Generasi muda yang masuk dalam golongan ini cukup sedikit. Bahkan tak jarang dianggap aneh, kuno, kampungan ketika ada orang Indonesia khususnya pemuda yang memegang teguh budaya dan nilai-nilai kebangsaan. Kalau ada yang bisa main gamelan dianggap orang jadul, bisa menari tarian daerah dianggap tidak modern karena bukan breakdance. Namun golongan yang sedikit inilah yang bersusah payah menjaga kebudayaan dan kearifan bangsa Indonesia.

Golongan ketiga dan yang terakhir adalah mereka yang terombang-ambing antara dua pilihan diatas. Golongan ini juga cukup banyak. Mereka sangat bergantung pada lingkungan sosialnya. Saudara, keluarga, dan teman-temannya yang menentukan apakah nantinya dia masuk dalam golongan pertama atau golongan kedua. Golongan ini ibaratnya suara mengambang dalam pemilu yang dikejar-kejar oleh parpol untuk menaikkan suara pemilih mereka.

Terpaan arus globalisasi ini mau tidak mau harus diperhatikan oleh segenap masyarakat bangsa. Berkaca pada pembagian golongan diatas, fakta golongan pertama yang banyak terdapat di Indonesia menjadi perhatian khusus. Karena dari sana tergambar bahwa kebanyakan masyarakat khususnya generasi muda tidak begitu memerhatikan identitas bangsanya. Identitas bangsa mungkin dianggap jadul dan tidak relevan untuk masa kini. Budaya asing lebih memengaruhi identitas masyarakat dan pemuda saat ini.

Wajar kalau saat ini, musik dan lagu asing lebih sering kita dengar daripada musik dan lagu asli Indonesia. Tarian asing lebih dinikmati daripada tarian tradisional, dan model pakaianpun mengikuti model asing karena model pribumi kuno dan tidak up to date.

Lalu bagaimana cara mengeksiskan kembali identitas bangsa Indonesia dalam arus globalisasi dan multikultural saat ini? Semua manusia Indonesia tampaknya sepakat bahwa kita sebagai masyarakat hendaknya kembali kepada nilai-nilai pancasila. Mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan.

Namun ternyata tak semudah kata terucap. Saat ini yang terjadi kalau anda bertanya pada mahasiswa tentang mata kuliah apa yang paling membosankan, maka kebanyakan akan menyebut kewarganegaraan atau pendidikan pancasila. Beberapa merasa mata kuliah tersebut terlalu mudah sehingga bosan mempelajarinya berulang-ulang. Sebagian lagi merasa bosan karena walau dipelajari berkali-kali tetap tidak masuk ke kepala. Namun kalau ditanya kepada mahasiswa tentang apa alat pemersatu bangsa, jelas dan tegas mereka akan menjawab “Pancasila”.

Pancasila hanya sekedar menjadi simbol belaka tanpa makna, sebatas kognitif pada pelajaran sekolah dan kampus tanpa pemaknaan secara afeksi dan perilaku.

Kalau kita tetap yakin pancasila satu-satunya alat pemersatu bangsa, penguat identitas bangsa dalam komunitas global dan multikultural saat ini, setidaknya ada 3 langkah yang perlu diperhatikan.

Yang pertama membangun kepercayaan diri bangsa bahwa kebudayaan Indonesia serta kearifan lokal merupakan sesuatu yang peka jaman, selalu up to date, dan tidak kalah dengan kebudayaan asing. Bahkan budaya Indonesia jauh lebih beragam daripada budaya asing, ini menandakan keragaman sudut pandang masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan.

Yang kedua membangun keyakinan terhadap esensi dari pancasila, mengapa pancasila menjadi dasar Negara, serta mau mempelajari dan mempraktikkannya dalam keseharian. Secara historis pancasila tidak muncul tiba-tiba, ada proses disana dan disepakati bersama karena pancasila merupakan representasi dari pemersatu keragaman budaya Indonesia.

Yang ketiga membangun keyakinan bahwa budaya yang paling cocok untuk orang Indonesia adalah budaya yang berasal dari tanah air sendiri. Mungkin budaya asing bisa terserap menjadi budaya Indonesia, namun tetap perlu ada filter sehingga yang baik-baik sajalah yang terserap.

Saya meyakini identitas bangsa akan kuat di tengah globalisasi saat ini jika tiga hal diatas terwujud pada diri masing-masing anak bangsa. Selain itu  proses penginternalisasi nilai-nilai pancasila menjadi karakter kepribadian setiap anak bangsa juga menjadi penguat munculnya identitas bangsa yang membuat kita berbeda dan memiliki makna bagi negara dan bangsa lain.

10 wasiat Imam Hasan Al-Banna

Imam Hasan Al-Banna pernah ikut dalam thoriqoh sufi sehingga dalam jamaah IM terdapat istilah-istilah sufi, misalnya mursyid, thoriqoh, dan termasuk memberikan wasiat kepada murid-muridnya. Wasiat ini juga tidak tercantum dalam risalah ta’lim, tetapi tertulis secara terpisah.Gambar
Wasiat ini sifatnya bukan prinsipil karena hal-hal yang prinsip tidak boleh ditulis dalam wasiat. Hal-hal prinsip terkait islam telah disampaikan dalam Arkanul Baiah. 10 wasiat ini merupakan wasiat yang perlu diperhatikan untuk  aktivitas sehari-hari.
10 wasiat Imam Hasan AL-Banna itu :
  1. Dirikanlah sholat apabila engkau mendengar Azan, walaupun apapun jua kondisimu saat itu.   wasiat ini sejalan dengan anjuran Rasulullah SAW untuk menyegerakan sholat. Hadis-hadist tentang perintah untuk menyegerakan sholat (dan sholat berjamaah) juga cukup banyak, baik yang sifatnya anjuran lunak maupun anjuran keras dan tegas. Kebiasaan untuk tidak menyegerakan sholat atau “nunggu Iqomah” hendaknya diubah. Kebiasaan ini juga bisa menjadi perhatian bagi para maudu’ dalam menilai da’i.
  2. Bacalah Al-Qur’an,  pelajarilah tafsirnya , dengarkan bacaan orang lain, senantiasa berzikir pada Allah, dan menghindari dari kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat. à  Pada masa dahulu untuk mengetahui bahwa seseorang itu ikhwah  tarbiyah atau tidak, cukup dengan memerhatikan apakah dia membawa mushaf AL-Qur’an dan membacanya di masjid atau tidak. Seorang Al-Akh itu biasanya senantiasa membawa AL-Qur’an dan membacanya atau senantiasa berzikir.  Syaikh Jum’ah AL Amin selalu mengingatkan tentang sudah berapa banyak tilawah Al-Qur’an yang dikerjakan. Karena kedekatan dengan AL-Qur’an itu lebih penting daripada amal aktivitas lainnya.
  3. Berusaha untuk mampu berbahasa arab yang fasih. à Kemampuan ini juga merupakan bagian dari syiar islam. Selain itu madah tarbiyah 1433 H itu sudah diberikan, namun semuanya tulisan arab gundul dan perlu diterjamahkan dahulu sebelum diberikan ke Al-Akh. Karena sedang dalam proses terjemahan itu maka madah tarbiyahnya belum banyak sampai ke kader di bawah.
  4. Janganlah memperbanyak debat dalam hal apapun. Karena berdebat itu tidak akan mendatangkan kebermanfaatan.
  5. Jangan banyak tertawa. Sebab hati yang mudah berkomunikasi dengan Allah itu adalah hati yang tenang dan tentram, sedangkan tertawa itu menjadikan hati kaku dan tidak tenang. à sangat dilarang memancing orang tertawa dengan menceritakan suatu kebohongan.
  6. Janganlah kalian banyak bergurau, karena bagi umat yang berjihad itu tidak mengenal melainkan hanya kesungguhan. Kesungguhan itu dalam segala hal.
  7. Janganlah engkau meninggikan suaramu melebihi kebutuhan karena itu akan menunjukkan kebodohanmu. à Kecuali kalau khotbah biar pada gak tidur. Berbicara dengan suara yang tinggi juga dapat menyebabkan orang lain tidak menyukai kita.
  8. Jangan menghina orang, mencela organisasi, dan jangan berbicara kecuali pembicaraan yang baik. Terutama kepada sesama umat muslim. Mungkin perlu dicari tahu lagi kisah tentang Imam Hasan AL-Banna waktu menyikapi tulisan Sayyid Quthb yang kontroversial. Hasan AL-Banna tidak memberikan counter, tetapi membiarkan tulisan controversial itu. Kemudian seperti yang telah kita ketahui akhirnya Sayyid Quthb bergabung dengan jamaah IM setelah Imam Hasan Al-Banna Meninggal dan pada saat itu juga orang-orang barat bergembira ria. Melihat kondiri itulah,  Sayyid Quthb mulai tertarik dengan pemikiran Al-Banna.
  9. Perkenalkanlah dirimu kepada ikhwah yang engkau jumpai walaupun ia tidak meminta padamu. Sebab prinsip dalam dakwah ini adalah cinta dan saling mengenal / ukhwah antar ikhwah. Selain dengan saling mengenal maka akan memudahkan dalam pemberian amanah.
  10. Kewajiban itu lebih banyak ketimbang waktu yang tersedia. Karena itu bantulah orang lain memanfaatkan waktunya dengan baik. dan jika engkau mempunyai urursan selesaikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Jangan pergunakan waktu luangmu untuk hal-hal yang sia-sia.
Resume kajian bersama ustad Rasyid Rosyail

Seputar Qiyamul Lail

Gambar

Umar bin khattab RA pernah berkata, “Ada tiga hal yang membuat saya kembali dari kefuturan, yaitu Qiyamul Lail, Berjamaah, dan bertemu dengan para ikhwah (Saudara seiman).”

Ada banyak sekali ayat di dalam AL-Qur’an yang menjelaskan tentang manfaat dari Qiyamul Lail :

  1. Q.S AL-ISraa ayat 7, menjelaskan bahwa Qiyamul Lail mengangkat kita pada golongan terpuji
  2. Q.S Adz-Dzariyat ayat 15-18, menjelaskan bahwa QIyamul Lail merupakan cirri orang yang bertaqwa.
  3. Q.S Al-Furqon ayat 63-65, menjelaskan bahwa Qiyamul Lail merupakan cirri orang-orang yang penyayang
  4. Q.S Al-Insan ayat 26, menjelaskan tentang perintah melaksanakan QIyamul Lail
  5. Dan masih ada banyak lagi.

Keutamaan Qiyamul Lail :

  1.  Mendapat Ridho Allah. Qiyamul Lail memiliki derajat yang sama dengan jihad fisabilillah dan sholat berjamaah
  2. Merupakan Kebiasaan orang-orang sholeh
  3. Menghapus keburukan
  4. Menjauhi diri dari dosa
  5. Menyembuhkan penyakit dan menjaga tubuh agar tetap sehat
  6. Merupakan kemuliaan seorang muslim (H.R Tabrani)
  7. Diampuni dosanya yang telah terjadi dan yang akan datang

Adab-Adab QIyamul Lail

  1. Berniat Qiyamul Lail sebelum tidur
  2. Berusaha menghapus rasa kantuk setelah tidur
  3. Segera bersiwak sesudah doa
  4. Mencoba mengawali dengan rakaat yang ringan
  5. Dianjurkan memanjangkan rakaat (berdirinya lebih lama daripada sujudnya)
  6. Membangunkan pasangannya ketika sudah bangun duluan
  7. Jangan memaksakan diri untuk melaksanakannya
  8. Berusaha untuk istiqomah

Waktu Pelaksanaan QIyamul Lail

  1. Tengah malam atau sepertiga malam akhir atau diawal malam
  2. Afdholnya setelah bangun tidur di seperti malam akhir. Tapi tidak apa-apa kalau dikerjakan sebelum tidur.

 

Berkenalan dengan Self Instruction

Self talk mungkin sudah sangat familiar bagi kita semua. Dalam bahasa sehari-hari lebih dikenal sebagai kata hati yang melakukan komunikasi secara sadar dengan diri kita. Misalnya ketika kita melihat seorang remaja putrid berusia sekitar 18 tahun mengenakan baju warna kuning dan berjilbab ungu mungkin dalam hati akan muncul kalimat seperti ini, “Ih…norak banget nih cewek, tabrak lari bajunya. Kalau adekku pasti udah kusurh ganti.” Boleh jadi kalimat itu tidak demikian, tetapi tetap hanya dilakukan dalam hati. Nah itu adalah kata hati alias self talk.

Gambar

Contoh self talk lainnya mungkin kita lakukan ketika hendak memilih suatu barang di pertokoan dan saat itu kita hanya sendirian tanpa ada teman. Sebutlah kita sedang memilih sepatu. Maka ketika kita mengamati satu persatu sepatu yang tampak menarik, self talk ini akan terjadi. Biasanya berupa pertanyaan seperti: sepatunya lentur atau tidak? Dijahit atau dilem? Nyaman dipakai atau sempit? Modelnya bagus atau tidak? Nah… pertanyaan-pertanyaan itu akan kita jawab dengan mengecek sepatu yang sedang kita amati itu.

Lalu apa hubungan antara Self talk dan Self Instruction? Sebenarnya self instruction itu ya self talk itu sendiri. Hanya saja self instruction digunakan untuk memberikan perintah pada diri sendiri atau memberi petunjuk dan nasihat pada diri sendiri. Self talk itu memberikan pertimbangan pada diri kita tentang suatu hal, di sana pikiran kita yang menentukan akan memilih A atau B. Sedangkan ketika ia sudah berubah menjadi bermakna perintah atau memberikan persuasi pada diri kita untuk melakukan suatu tindakan, maka ia menjadi self instruction.

Susah membedakannya? Berikut ini contoh-contoh self instruction :

  1. kamu bisa mengerjakannya, yang diperlukan hanya mencoba memulai dengan menulis atau,
  2. kamu tidak seperti yang mereka katakan, jadi abaikan saja ejekan mereka atau,
  3. tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan, kamu sedang marah tuh….

Self instruction dapat digunakan sebagai suatu cara untuk mengelola emosi, loh. Tahu tentang emosi kan? Emosi itu bukan perasaan marah loh. Marah hanya merupakan satu contoh dari emosi. Emosi merupakan reaksi perasaan diri kita terhadap suatu hal. mudahnya emosi itu ya Afeksi, Afeksi ya emosi. Nah reaksi kita terhadap suatu peristiwa seperti marah, sedih, gembira, takut, kecewa, stay cool, semangat, dan sebagainya itulah yang disebut dengan emosi kita. Memang sih ada orang yang sensitif sehingga emosinya mudah bereaksi ketika bertemu suatu peristiwa dan ada juga yang bisa mengelolanya dengan baik, bahkan ada juga yang tidak sensitive sama sekali.

Emosi yang sangat mudah muncul dan tidak mampu dikontrol oleh pikiran biasanya akan menjadikan seorang cenderung bertindak irasional. Tentu saja kemunculan emosi itu hal yang wajar, ketidakmampuan kontrol itulah yang perlu diperhatikan. Apakah anda termasuk orang yang sukar mengontrol emosi? Yuk dijawab pertanyaan berikut ini,

  1. apakah anda lekas marah ketika ada orang yang menyinggung warna kulit anda?
  2. Apakah anda menjadi begitu cemas ketika dipanggil oleh guru / dosen tanpa mengetahui alasan pemanggilan itu?
  3. Apakah anda bersikap berlebihan dan cenderung posesif ketika mendengar kabar tidak mengenakkan tentang sahabat dekat atau pasangan anda?

Jika tiga pertanyaan diatas dijawab dengan YA, berarti ada kemungkinan anda memang memiliki masalah dengan mengontrol emosi. Berikut ini langkah-langkah yang dapat digunakan untuk membantu mengontrol emosi memakai metode Self instruction :

  1. Tentukan dengan cermat kapan anda merasa tidak mampu mengontrol emosi (anteseden)

Dari tiga pertanyaan sebelumnya dapat kita ambil kesimpulan bahwa pada pertanyaan pertama situasinya adalah ketika ada orang yang mengejek warna kulit. Pertanyaan kedua situasinya adalah panggilan dari Guru/ Dosen tanpa kita ketahui alasan pemanggilannya. Dan pertanyaan ketiga situasinya adalah kabar tidak mengenakkan tentang sahabat dekat atau pasangan.

Tiga situasi diatas merupakan stimulus penyebab kemunculan reaksi emosi yang tidak bisa dikontrol oleh diri. Penyebab inilah yang diistilahkan sebagai anteseden.

  1. Pilihlan kalimat positif yang sifatnya sugesti sebagai Self Instruction-nya

Setelah mengetahui antesedennya maka kita dapat memilih kalimat positif yang akan digunakan untuk sugesti dan sebagai pengontrol reaksi emosi yang berlebihan itu.

Misal, pada situasi pertama diatas maka kita memilih kalimat positif sebagai berikut, “Warna kulit adalah anugrah dari tuhan, jadi tidak ada masalah dengan warna kulitmu, abaikan saja ejekan mereka! toh.. engkau lebih cerdas daripada mereka.”

Pada situasi kedua misalnya dengan kalimat,”Tenangkan dirimu! jangan berprasangka buruk dulu! mungkin panggilan itu karena kebaikan atau prestasimu!”

Pada situasi ketiga misalnya dengan, “Pasanganmu itu orangnya setia, kok… cobalah bangun rasa percayamu padanya dan berbicaralah dari hati ke hati!”

  1. Latih self instruction dengan cara menggunakannya ketika menemui penyebab-penyebab anda tidak mampu mengontrol emosi.

Kemudian simpan kalimat-kalimat self instruction yang sudah anda susun tadi dalam ingatan anda. Ketika muncul antesedennya maka keluarkan kalimat self instruction itu. Untuk memudahkan penggunaannya anda bisa melakukan latihan berulang-ulang dengan cara mengingat antesedennya dan kalimat self instructionnya. Missal, kalau ada yang mengejek warna kulitku, maka aku akan menjawabnya, “Warna kulit adalah anugrah dari tuhan, jadi tidak ada masalah dengan warna kulitku, abaikan saja ejekan mereka! toh.. aku lebih cerdas daripada mereka.”

Demikianlah perkenalan kita dengan Self instruction dan cara menggunakannya dalam mengelola emosi kita. Semoga memberikan manfaat.

Sumber bacaan :

Miltenberger, R.G.2004. Behavioral Modification: Principles and Procedures Third Edition. California : Wadsworth/ Thomson Learning inc.

(Mencoba Me-) Resensi Novel : Jean Sofia

“Catur, emang keluarga yang beda agama itu bagaimana?” begitulah kira-kira pertanyaan seorang teman yang membuat ane tertarik dengan alasan dibalik ia bertanya seperti itu. Setelah di cek n ricek, ternyata teman yang bertanya itu sedang membaca sebuah novel. Dan novel itu kemudian ane pinjem karena tertarik dengan apa yang diceritakan teman setelah ane menjawab pertanyaannya itu.

O iya…Kayaknya sih, belum pernah sekalipun ane nulis resensi buku. Hm… atau udah pernah ya? Dulu pas tugas sekolah entah SMP atau SMA. Setelah menghabiskan sebuah novel, ternyata waktu masih menunjukkan jam 11 malam dan ane belum merasa ngantuk. Iseng deh nyoba nulis resensi berikut ini yang mungkin ga ngikutin format resensi buku secara umum.

***

Jean Sofia
karya : Leyla Hana

Penerbit : Laksana, divapress, YogyakartaGambar

Novel ini menceritakan tentang kisah cinta dua orang. Jean dan sofi. Jean Adrianus Joshua, seorang blasteran Prancis-china yang memiliki tinggi diatas rata-rata cowok Indonesia, kulitnya putih, hidungnya mancung, dan rambut gelap. Tipe cowok sempurna bagi cewek. Sofia Zulaikha, gadis manis Sunda-Jawa, kulitnya sawo matang. Berasal dari keluarga yang taat beragama. Sofia menjadi semakin taat setelah mengikuti kegiatan mentoring di kampusnya.

Takdir mempertemukan mereka pertama kali saat keduanya tak sengaja bertabrakan di kelas. Dari sana Sofia yang mengenakan jilbab namun masih bercelana panjang mengawali jatuh cintanya pada Jean. Sementara itu Jean menjadi lebih sering memerhatikan Sofia. Apalagi ketika Sofia beberapa kali mencuri pandang padanya.

Namun ada dinding besar yang membatasi cinta keduanya. Jean seorang katolik dengan keluarga yang tidak begitu taat namun fanatik pada agama. Sedangkan Sofia adalah seorang muslimah yang mengerti bahwa tidak dibenarkan dalam agamanya menikah dengan orang yang berlainan iman.

Cintapun tumbuh diantara keduanya tanpa ada yang saling mengetahui. Sofia akhirnya semakin dekat pada tuhannya dan berusaha untuk melupakan rasa cinta yang tumbuh untuk Jean. Jean yang telah mengetahui bahwa dalam agamanya melarang nikah dengan orang yang berbeda keimanan juga mencoba mengambil jarak. Perilaku Sofia yang mencoba menjauh dari Jean apalagi setelah berjilbab lebar dan memakai gamis membuat Jean semakin memendam rasa cintanya. Jadilah pada masa-masa kuliah keduanya hanya memendam rasa cinta itu.

Kisah semakin menarik ketika keduanya telah lulus kuliah. Bertemu dalam keadaan yang sudah jauh berubah sama sekali. Jean tetap belum menikah tetapi telah menjadi mualaf sekitar lima tahun sebelum pertemuan mereka. Sementara Sofia baru saja bercerai dari suaminya karena tidak tahan berpoligami, walaupun Sofialah yang meminta suaminya berpoligami karena tujuh tahun pernikahan mereka, Sofia belum bisa memberikan keturunan.

Kisah cinta mereka berlanjut dengan pernikahan keduanya. Cobaanpun mulai menghampiri. Dari orang tua Jean yang tidak setuju dengan pernikahan anaknya itu. Hingga cobaan finansial yang membuat Jean sempat merasa tuhan memperlakukannya tidak adil.

Novel ini memberikan nuansa cerita cinta yang menarik. Beda agama menjadi bumbu penyedap yang membuat rasa novel ini berbeda dari novel cinta lainnya. Dari novel ini kita juga mendapatkan banyak pengetahuan seputar agama katolik dan islam. Walaupun porsi islam lebih banyak ditampilkan oleh sang penulis. Perbedaan porsi ini menjadi satu kelemahan menurut saya.

Alur cerita yang penuh konflik dan membuat pembaca enggan untuk berhenti membaca sebelum selesai justri mulai tampak dipertengahan novel. Sejak kedua tokoh lulus kuliah hingga ceritanya berakhir. Entah kenapa, saya merasa pendeskripsian tokoh yang jatuh cinta tampak dilebih-dilebihkan. Cenderung “lebay” jika menggunakan bahasa gaul terkini. Sehingga di awal-awal membaca novel ini saya sempat merasa kurang tertarik. Ternyata saya mampu bertahan dari ketidaktertarikan pada bagian awal dan menemukan alur yang lebih nikmat pada bagian pertengahan hingga akhir. Konfliknya pun semakin terasa nyata dan semakin banyak pelajaran yang diberikan.

Secara umum menurut saya novel ini termasuk novel dakwah, karena sangat kentara sekali dengan sudut pandang islamnya. Poin plus-plus untuk novel ini adalah kemampuannya untuk mengajak para pembaca lebih menghargai cinta. Bahwa cinta itu merupakan suatu hal yang perlu dijaga kesuciannya dan kesakralannya agar kehidupan penuh cinta yang kita jalani mendapat keberkahan dari sang Pencipta.

Siapapun Engkau Teruslah Belajar dan Mengasah Keterampilan Diri

Gambar

Yah… itu pesan yang mau ane sampaikan kepada para pembaca sekalian. Tak peduli apa pekerjaanmu dan kesibukanmu, sempatkanlah diri untuk selalu belajar dan mengasah kemampuanmu. Akan bagus sekali kalau keterampilan yang diasah itu masih berhubungan dengan pekerjaanmu. Untuk itu engkau perlu juga mencintai pekerjaanmu.

Tahu tukang kunci? Pernah berurusan dengan tukang kunci? Yah.. akupun juga pernah. Belum lama ini malah terjadi kisah menarik dengan tukang kunci. Dari peristiwa itulah judul tulisan ini terbuat. Tukang kunci saja selalu belajar, Bro…

Minggu sore ketika terlibat suatu acara dauroh keislaman, ada motor peserta yang kuncinya ga bisa macet. Lebih tepatnya adalah anak kunci ga bisa membuka kunci pengaman. Tipe motor Honda Scoopy. Dimana ketika kita mengunci stang motornya maka otomatis kunci pengaman menutup. Kejadian ini terjadi karena ane ga tau kalau otomatis nutup dan ternyata anak kuncinya itu duplikatan. Anak kunci tidak cocok untuk membuka pengaman motornya.

Kemudian dicobalah mengutak atik kunci pengaman. Minjem kunci beberapa motor merk Honda siapa tau ada yang bisa. Lalu congkel-congkel pakai peniti dan gunting kuku. Bahkan yang empunya sempat nyari-nyari kunci motor dulu (Maaf ya Dek peserta). Semuanya tidak berhasil. Si Scoopy masih diam ditempat sementara hari semakin sore.

Akhirnya ane putuskan nyari tukang bengkel. Minjem  motor temen lalu wuz…wuz… search for ABenk! Eh ternya mas Abenk nya ga bisa berbuat apa-apa. Katanya sih itu kunci udah satu paketan semua dan disarankan ke tukang kunci aja. Oke deh mas Abenk, ane meluncur lagi ke daerah De Britto. Di sana kan berjejer tukang kunci dan tukang stempel.

Sampai di tukang kunci, ane nunggu bentar karena masih ada pelanggan. Pelanggan aneh, duplikatin kunci tiga kali. Pasti sering ilang ntu kunci, batin ane berkata demikian.

Akhirnya bisa juga nyeritain kisah si Scoopy yang ga bisa di buka kuncinya. Setelah mendengar penjelasan ane si tukang kunci itu segera menyiapkan perlengkapan. Ada alat kayak obeng, palu juga dimasukin, dan yang paling menarik dia juga motong satu kunci motor Honda dan yang dibawa adalah gagang yang ada kunci pengaman.

Wuz..wuz… ke lokasi ya bang….

Diperjalanan abang tukang kunci sempat nanya tentang apa yang telah dilakukan sebelum menghubungi dirinya. Dan dia sangat kaget ketika ane certain udah mencongkel kunci Scoopy dengan macam-macam kunci motor Honda dan juga gunting kuku. Ane nyadar yang telah dilakukan itu salah. Ane cemas. Motor orang. Adek pesertanya ntar nangis lagi kalau ga bisa pulang.

Setelah bertemu dengan si Scoopy, tukang kunci itu langsung mengeluarkan perkakasnya, termasuk kunci motor yang dipatahkan itu. Kemudian mencocokkan semacam magnet yang ada di anak kunci. Beberapa menit kemudian, kunci motor udah bisa dibuka. Motor bisa dihidupkan. Total waktu tidak lebih 10 menit digunakan oleh tukang kunci itu.

Teman-teman yang menyaksikan kerja tukang kunci itu cukup terkejut.

Semudah itu kah? Batin masing-masing kami berkata.

Tukang kunci itu kemudian ane antarkan kembali ke bengkelnya. Diperjalanan ane bertanya beberapa hal tentang kemampuannya itu. Cukup terkesan karena motor jenis Scoopy itukan termasuk keluaran terbaru. Dan tukang kunci itu tidak memerlukan waktu lama untuk membuka pengaman kuncinya. Usut punya usut ternyata si tukang kunci ini belajar perkuncian motor-motor terbaru sebelum motor itu keluar di pasaran. Belajar via komunitasnya dan juga dari internet.

Nah… jika tukang kunci aja terus belajar untuk mengasah keterampilannya. Tentu kita juga harus terus belajar mengasah kemampuan kita. Semoga kita juga terus berkembang dan tidak tenggelam oleh jaman.