Caturcakep's Blog

Just another WordPress.com weblog

akhirnya superman itu mengalah

saat awal-awal perjumpaan ia adalah seorang biasa
biasa dalam segala hal… tidak istimewa, apalagi dihadapanNya
lalu engkau mengajaknya mengenal dunia ini
dunia yang besar dan Mimpi yang besar juga
dalam naungan cinta yang katamu adalah MilikNya

lalu dia mulai menata dirinya, jiwa, dan hatinya
menemanimu merengkuh cintaNya
dia yang tak bersayap belajar untuk terbang
dia yang tak punya kekuatan mencoba mengatasi ribuan musuh
karena dia merasakan cintaNya pada dirimu
tak ada alasan lain untuk menemanimu mengarungi mimpi itu

dia mencoba menikmati peran yang diberikan
namun seringkali dia jatuh dan terluka
dan dia terus belajar menjadi seorang superman disisimu
karena engkau butuh dia untuk meraih cintaNya
dia relakan dirinya untuk menjadi sang superman

hari berganti dan terasa mimpi yang dulu engkau ceritakan padanya
tiada lagi indah terlihat
dia tahu besar mimpi dan cinta yang akan engkau raih
namun dia tak melihat semangat itu pada dirimu
mana mimpi yang dulu engkau ceritakan padanya
di atas rerumputan hijau dan langit biru
mana sorot mata yakinmu yang menundukkan dirinya?
dia melihat mimpi itu mulai hilang darimu
dia merasa cinta itu mulai memudar darimu

dan sampailah pada batas dirinya
karena mimpi itu tak lagi engkau miliki
karena CintaNya tak lagi engkau nikmati
maka dia memutuskan untuk kalah
kalah dalam usaha meraih cintaNya untukmu
sebab dia sendiri tak tahu berjuang untuk siapa saat ini..

20 Desember 2009 Ditulis oleh caturcakep | Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan

Integralitas Dakwah Kampus: kenyataan dalam impian

Pernah ada sms jawaban dari seorang kader dakwah ketika diminta untuk ikut membahas alur kaderisasi tingkat 2 Keluarga Muslim Psikologi (KMP) begini, “ alur kaderisasi kedua IPLF bukan MH (Muslim Humaneering) tapi IPC (Islamic Psychology Class) kemarin… integrasi dengan KMP dan Nuansa Cuma di MH1.” Saat itu juga saya kaget, “Ya Allah kenapa jawabannya begini? Apakah kader ini tidak mengerti KMP?”.

Karena alasan itulah, saya menulis bagian ini. Integralitas Dakwah Kampus. Di tengah usia dakwah yang semakin bertambah dan tuntutan yang semakin berat, dakwah kampus itu tumbuh dan berkembang. Dakwah kampus mula-mula memasuki ranah siyasi, politik kampus. Tumbuh dan berkembangnya dakwah kampus di ranah siyasi menjadikan dakwah kampus semakin menarik untuk diikuti. Lalu pada awal era 2000-an, kembali dakwah kampus di tantang untuk mengembangkan dirinya. dakwah keilmuan. Dakwah yang hadir untuk menjawab tantangan perkembangan keilmuan di universitas. Dakwah yang hadir karena kebutuhan kader intelektual di masa mendatang. Dakwah kampus pun berkembang dengan menggunakan tiga senjata utama, dakwah kampus daawy, dakwah kampus siyasi, dan dakwah kampus ilmy  seperti yang kita kenal sekarang.

Lalu, apakah ketiga dakwah kampus itu berjalan sendiri-sendiri? Tentu saja tidak, dari tiga senjata utama itu diharapkan terwujud  dakwah yang terintegrasi. Ketiganya saling melengkapi dan saling membutuhkan. Sehingga akan terwujud kader dengan ruhiyah  yang bagus, mengerti tentang urgensi dakwah, kader yang mengikuti perkembangan kondisi kampus dan negara, dan kader yang memiliki keilmuan khusus yang akan mendukung dakwah secara keseluruhan. Kader yang dengan mantap menjawab pertanyaan seputar islam oleh orang lain, kader yang mampu menjawab jika ditanya tentang kondisi bangsa, dan kader yang diperhitungkan secara akademis di kampus.

Sayangnya, dibeberapa tempat integralitas dakwah hanya menjadi impian belaka, dipahami segelintir orang tapi tak mampu untuk diturunkan dalam bentuk nyata. Ini terjadi di fakultas saya, psikologi. Wajar saja jika pada akhirnya analisis dakwah kedepannya tidak dapat menjawab kebutuhan dan tantangan dakwah. bagian-bagian dakwah itu bergerak sendiri-sendiri seakan tidak membutuhkan satu sama lain. Hasilnya tentu saja kader yang kurang berkualitas, berbicara peran ilmu pengetahun islam tetapi tak mengerti islam. berbicara tentang politik islam dan pergerakan, tapi ngawur dalam konsepnya. Bahkan membuat analisis sosial secara sembarangan tanpa data yang valid, karena disibukkan aktivitas ke daawy- an saja. Lalu akan seperti apa dakwah kedepannya? Bukankah kualitas dan kuantitas menjadi tuntutan kader saat ini? Bagaimana mungkin kader yang tidak berkualitas bisa memperbanyak jumlah para da’i?

Melihat pada teori-teori kelompok dalam psikologi sosial….wajar jika terjadi proses kohesivitas dalam kelompok. Kelompok menjadi lebih kuat dan dapat berbagi mimpi bersama. Yang terjadi dalam dakwah kampus adalah pembentukan kelompok-kelompok. Lini A, B, dan C. saya sadar lini-lini itu diperlukan untuk perkembangan dakwah kedepannya. Tapi pada tataran kader strategis pun terjadi seperti ini,” Oh… itu khan dakwah A, kita lini C”. yang lebih sering merasakan kesusahan adalah dakwah siyasi, pengkaderan siyasi yang sulit, namun posisinya strategis di kampus. Sayangnya lini A dan lini C terkesan enggan membantu. Rapat dalam syuro pun hanya menyangkut aspek teknis yang cenderung reaktif. Menurut saya langkah strategis dakwah kampus hanya akan diperoleh dari menyatunya 3 lini ini, tanpa menghilangkan warna, seperti perkataan seorang teman waktu SMA, “pelangi itu indah karena dia warna-warni bukan sewarna”. Mimpi saya adalah pelangi itu dakwah kampus dan warna-warna yaitu lini dakwah itu bersatu, terikat. Bukan pada tataran teknis kerja dan renstra semata, tapi lebih pada pemahaman bahwa tidak ada kader A, Kader B, dan kader C. bukankah kader dakwah harus memiliki 3 kriteria itu?

Keluh kesah ini saya sampaikan setelah melihat kondisi dakwah psikologi. Integralitas dakwah kampus belum terasa.  Sehingga saya memaklumkan adanya kemudahan-kemudahan dakwah di psikologi yang tidak termanfaatkan. Beberapa teman berkata, “ente (psikologi) Zalim terhadap kemudahan yang diberikan Allah.” . Ya Allah ampunilah dosa kami…. AAI psikologi adalah AAI terbaik, teraman, didukung banyak pihak kampus. Namun belum mampu menjadi pintu rekrutmen yang lebih masif dibandingkan fakultas lain. Keresahan ini semakin bertambah dengan adanya kader dakwah sekolah yang tidak mau mengerti dakwah kampus. Amanah sekolah yang saya rasa minim tantangan dan kendala menjadikan kader dakwah sekolah merasa nyaman. Psikologi memiliki cukup banyak kader dakwah sekolah.

Perbaikan memang perlu dilakukan dalam dakwah psikologi UGM. Terutama internal kader, forum komunitas belum terasa sebagai tempat kembali kader. Selama ini Forum komunitas hadir ketika ada perintah dan taklimat saja. Kaderpun merasa tidak memiliki dakwah kampus yang utuh. Saya merasa perbaikan pada komunitas dasar kader menjadi hal yang utama bagi dakwah kampus terutama di psikologi. Saat ini saya hanya bisa berkata bahwa dakwah kampus yang integral masih dalam bentuk impian, berwujud semu di lapangan.

16 Desember 2009 Ditulis oleh caturcakep | Uncategorized | | 1 Komentar

tanggung jawab itu milik murobbi

Dakwah adalah suatu proses mengajak manusia kepada kebaikan. Dakwah kampus berarti dakwah yang  prosesnya itu berlangsung dalam kampus. Sehingga pengampu dakwah di kampus itu adalah warga kampus , baik mahasiswa, karyawan, dan dosen kampus. Selain itu, masyarakat umum, atau khususnya masyarakat sekitar kampus  juga menjadi objek dalam dakwah kampus. Ada perbedaan antara mahasiswa dengan dosen dan karyawan dalam mengampu dakwah kampus . dosen dan karyawan adalah kader dakwah kampus yang masuk ke dalam model dakwah profesi, objek dakwah mereka lebih pada orang-orang yang sesuai dengan profesi mereka. Sedangkan mahasiswa adalah kader  dakwah yang langsung bersentuhan dengan objek dakwah yang bisa mencakup seluruh objek dakwah kampus, namun lebih diutamakan mahasiswanya dulu.

Aktivis dakwah selain melakukan aktivitas dakwah ke civitas kampus, juga melakukan pembinaan internal. Pembinaan internal dan aktivitas dakwah yang dilakukan memiliki hubungan yang erat dan saling melengkapi satu sama lain. Hubungan yang tercipta berbentuk korelasi positif. Pembinaan internal yang baik akan meningkatkan personal kader yang matang, sehingga menciptakan kerja dakwah yang baik pula. Pembinaan internal yang baik membentuk kualitas kader yang bagus dalam melakukan kerja-kerja dakwah. Kualitas-kualitas kader yang bagus ini menandakan besarnya kekuatan dakwah yang dimiliki.

Lalu siapa yang melakukan pembinaan terhadap kader-kader dakwah kampus itu? tentu saja perangkat-perangkat tarbiyah memiliki peran sentral bagi pembinaan kader-kader dakwah. perangkat-perangkat tarbiyah mulai dari yang memiliki sifat khusus seperti usrah atau forum halaqah hingga yang bersifat umum seperti daurah dan mukhayam. Perangkat tarbiyah ini telah disusun sedemikian rupa yang memiliki tujuan secara umum untuk peningkatan kualitas kader. Tujuan lain yang tidak kalah pentingnya dari pelaksanaan perangkat tarbiyah adalah untuk kaderisasi, mempersiapkan generasi-generasi penerus dakwah, agar dakwah tetap langgeng dan dapat mencapai tujuannya.

 Perangkat tarbiyah yang pertama, yang terkecil adalah forum halaqah. Forum halaqah adalah pondasi pertama dalam pembinaan kualitas kader. Ruang lingkupnya yang kecil menjadi inti dalam pengembangan kualitas kader. Di dalam halaqah kader dakwah dibina untuk menjadi kader yang berkualitas dalam dakwah dengan memerhatikan perkembangan tiga aspek kualitas yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Aspek kognitif meliputi segala hal yang berhubungan dengan pengembangan pemahaman kader terhadap konsep islam. apa itu syariat islam, fiqih dan penerapannya, problematika umat, dakwah dan manhaj dalam dakwah, dan sebagainya adalah hal-hal yang yang perlu dipahami oleh seorang kader dakwah. pembinaan aspek kognitif ini akan menghasilkan kader-kader yang memiliki wawasan islam yang luas dan memiliki bekal keilmuan keislaman. Bekal wawasan islam ini harapannya dapat di transfer lagi oleh kader dakwah pada masyarakat yang lebih luas. Aspek kognitif tidak hanya berupa pemahaman tentang wawasan islam, tetapi juga pembinaan terhadap ilmu pengetahuan umum spesifik yang dimiliki kader.

Aspek afektif lebih mengedepankan bagaimana seorang kader mampu merasakan kondisi masyarakat yang ada sekarang, mampu merasakan adanya tuntutan untuk berdakwah dan ber amal jama’I di dalamnya. aspek afektif berhubungan dengan rasa, rasa dalam berislam, beribadah, berukhuwah, berdakwah, dan beriman. Kualitas rasa yang dimiliki seorang kader menentukan bagaimana ia memandang posisinya sebagai kader dakwah dan pekerjaan yang ia hadapi.

Aspek terakhir adalah psikomotorik. Bergerak! Melakukan amalan-amalan yaumi dan amalan-amalan dakwah dengan istiqamah. Aspek ini untuk membuktikan sejauh mana pemahaman dan rasa seorang kader dakwah terhadap islam dan dalam berdakwah.

Besarnya fungsi dan tanggung jawab pada halaqah itulah yang menyebabkan halaqah menjadi pondasi inti dalam dakwah. jika kita melihat pada dakwah kampus, maka halaqah-halaqah kampu adalah pondasinya. Baik buruknya dakwah kampus dapat dilihat dari baik buruknya halaqah-halaqah kader dakwah kampus. Baik buruknya sebuah halaqah dapat dilihat dari inti halaqah, yaitu Murobbi. Manajemen yang dilakukan seorang murobbi dalam halaqah yang dikelolanya.

Murobbi bukanlah sekedar guru yang menyampaikan ilmu-ilmu dan kabar-kabar seputar keislaman untuk kader-kadernya. Murabbi harus bisa melakukan manajemen yang rapi dalam halaqah. Ia mengetahui amanah-amanah kadernya, perkembangan kader, dan kondisi ruhiyah kader. Murobbi memahami kondisi kader-kadernya dan dengan tepat dapat memberikan penanganan khusus sesuai yang dibutuhkan oleh masing-masing kader. Pola pembinaan tarbiyah, “diatas murobbi masih ada murobbi” adalah kekhasan dalam tersendiri dalam pembinaan kader dakwah. Setiap kader dakwah dituntut menjadi murobbi dan memiliki binaan. Sehingga proses pembinaan kader yang berkualitas bisa terus berlanjut pada generasi penerus berikutnya.

Keberhasilan dakwah kampus ditentukan oleh kerja-kerja dakwah yang dilakukan para kadernya. Kerja kader dakwah yang bagus dikarenakan para kadernya yang berkualitas. Kader yang berkualitas itu adalah hasil dari binaan-binaan yang berkualitas pula dalam halaqahnya. Halaqah yang berkualitas adalah tanggung jawab yang harus diwujudkan oleh seorang murobbi.

24 November 2009 Ditulis oleh caturcakep | Keluarga Muslim Psikologi | | 1 Komentar

Menculik Kader Dakwah

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (Q.S AT-Taubah : 42)

Ayat diatas menggambarkan bahwa jalan yang sedang dilalui oleh para penyeru agama Allah itu bukanlah jalan yang singkat. Jalan itu jalan yang jauh dan tidak mudah untuk dilalui. Jalan itu adalah jalan milik Allah SWT (Q.S 6 :153). Jalan itu hanya akan dilalui oleh orang-orang yang memiliki keistimewaan dalam dirinya. yaitu orang-orang yang melakukan pembinaan bagi dirinya sehingga ia mampu istiqomah dalam melalui perjalanannya. Itulah orang-orang yang melakukan proses pembinaan diri atau yang dikenal dengan tarbiyah.

Karakter dasar jalan tarbawi ada tiga yaitu sulit tapi hasilnya jelas, panjang tapi terjaga keasliannya, dan lambat tapi hasilnya terjamin. Karakter ini menyebabkan seorang kader dakwah harus bersabar dalam melakukan tugas-tugasnya di jalan tarbawi. Kesabaran inilah yang nantinya akan menuntun kader dakwah dalam melewati tahapan-tahapan dalam dakwah dengan baik. Tidak ada ketergesa-gesaan dalam dakwah, yang dibutuhkan adalah kesabaran, kecermatan dan ketelitian dalam menyelesaikan setiap tahapan-tahapan  yang dilalui. Tahapan-tahapan itu mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, perbaikan negeri, hingga pada akhirnya menjadikan islam sebagai guru peradaban manusia.

Tujuan tarbiyah islamiyah adalah menciptakan kondisi yang kondusif bagi manusia untuk dapat hidup di dunia secara lurus dan baik, serta hidup di akhirat dengan naungan ridho dan pahala dari Allah SWT atau lebih tegasnya tujuan tarbiyah islamiyah itu adalah untuk menegakkan syariat islam. Tujuan ini tertanam dalam pikiran-pikiran para agen pelaksananya yaitu kader dakwah. tujuan yang tinggi ini membutuhkan kader dakwah yang tangguh dan berkualitas.  Kader dakwah yang kuat dalam mengemban misi besar yang dibebankan pada pundaknya.

Menculik kader dakwah yang tangguh adalah usaha yang paling efektif dan efisien. Tentu saja jika kader dakwah yang tangguh itu telah ada. Sayangnya kader dakwah yang diharapkan itu tidak dapat diculik. Kader dakwah itu adalah bentukan, hasil dari tarbiyah yang dilakukan dengan berkesinambungan sepanjang waktu. Hasil dari lingkungan dakwah yang memiliki ciri khas khusus di dalamnya. ciri khas khusus ini membentuk ketangguhan kader dakwah.

Menculik kader dakwah dapat bisa jadi merupakan cara yang cepat agar dakwah tarbawi itu segera berjalan. Tetapi bisa saja kader dakwah yang diculik itu tidak memiliki kekhasan dalam dirinya. Pemahamannya dan ketangguhannya sebagai seorang kader dakwah tidak dibarengi dengan kekhasannya yang terbentuk karena lingkungan dakwah yang kondusif. Hal ini terjadi karena kader dakwah culikan itu memiliki lingkungan yang berbeda dengan lingkungan “si penculik”.  Kader dakwah culikan pun bisa jadi tidak memilki keihklasan dalam menjalankan tugasnya. Tentu saja jika kader dakwah culikan itu ada. Kenyataannya kader dakwah tidak bisa diculik, ia hanya dihasilkan oleh proses pembentukan. Proses itu juga bernama tarbiyah.

Tarbiyah yang dilakukan dalam proses pembentukan kader dakwah yang tangguh adalah tarbiyah yang memiliki ciri khas pada manhajnya. Ciri khas tersebut merupakan fikroh yang berasal dari pemahaman yang utuh dan komprehensif terhadap islam itu sendiri. Mengembalikan ajaran islam pada kejernihan semula adalah ciri khas yang tidak dapat ditawar, karena ciri khas tersebut merupakan ciri khas islam itu sendiri. Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan sunnah Rasulnya yang melandasi amalan ibadah dan aqidah islam. Ciri khas yang lain tergambar pada keutuhan melihat sosok manusia yang menjadi kader dakwah. ilmu yang luas dan fisik yang kuat adalah gambaran kadernya. Selain itu kepemilikan harta juga menunjang jalannya aktivitas tarbiyah. Ciri khas-ciri khas sebelumnya menyebabkan seorang kader tarbiyah peka terhadap permasalahan di masyarakat dan mampu memberikan solusi penyelesaian permasalahan-permasalahan itu.

Proses tarbiyah kader dakwah juga memberikan perhatian pada pelaksanaan aktivitas dakwah. di dalamnya terdapat konsep amal jama’i yang menjadi motor penggerak aktivitas dakwah. tentu saja amal jama’I yang dilakukan tidak sekedar kerja bersama menyelesaikan agenda dakwah. ada hal-hal yang menjadi prinsip dalam beramal jama’i. diantaranya adalah kepahaman akan islam yang menghasilkan kepahaman dalam melakukan aktivitas dakwah. keikhlasan hanya mengharapkan ridho Allah semata menunjukkan bersihnya jiwa amal jama’I yang dilaksanakan oleh kader dakwah. Amalan yang berkesinambungan dan tidak sekedar amal menunjukkan kualitas isi dari aktivitas dakwah tarbiyah islam. Jihad menjadi ruh motivasi kader tarbiyah dalam melakukan amal jama’i. kerinduan akan mati syahid di jalan Allah menjadikan sosok kader dakwah tarbiyah itu tangguh dan tidak mudah putus asa.

Berikutnya adalah pengorbanan. Buah dari keikhlasan dan adanya motivator mati syahid adalah kader yang rela mengorbankan segala yang dimilikinya. ia pun menyadari bahwa tidak ada jihad tanpa pengorbanan. Oleh karena itu kader yang tangguh sudah pasti adalah kader yang menyerahkan secara total dirinya untuk menempuh jalan tarbawi ini. Besarnya impian tarbiyah islamiyah membuat kader dakwah tarbiyah sadar akan pentingnya sebuah ketaatan. Ketaatan dalam menjalankan amanah-amanah yang diberikan padanya. Ketaatan pada pimpinan dalam amal jama’I yang dikerjakan, selama pimpinan tidak menyimpang dari ciri khas dakwah tarbiyah yaitu berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya. Prinsip yang timbul berikutnya adalah kesungguhan dalam bekerja mencapai tujuan dakwah tarbiyah, mencapai akhir dari jalan tarbawi, walaupun ia tidak mengetahui ujunga jalan tersebut.

Kader dakwah tarbiyah itu membersihkan dirinya dari fikroh ajaran lain, ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan ciri khas utama dakwah tarbiyah. Mereka menjaga diri agar tidak mengikuti ajaran-ajaran yang akan menjauhkan diri dari jalan tarbawi yang menuju surga ini. Kader-kader dakwah tarbiyah memiliki impian yang sama terhadap dakwah islamiyah. Impian itu akan menguatkan mereka dalam ukhuwah yang tidak mudah terlepas ikatannya. Pengkondisian yang ada dalam lingkungan tarbiyah dan pendorong kader tarbiyah dalam usaha melewati jalan tarbawi menyebabkan timbulnya perasaan Tsiqah, ketentraman dalam menjalankan amanah yang diberikan padanya, kepercayaan dan keloyalan pada pemimpin yang mengatur amal jama’i dalam dakwah tarbiyah.

Kader tarbiyah yang tangguh dalam menjalankan dakwah islam adalah kader yang diciptakan melalu proses tarbiyah diatas. Proses ini yang menjadi inti dari dinamika dakwah selama berada di jalan kebenaran yang di ridhoi Allah ini. Proses ini yang akan memastikan bahwa kader tarbiyah adalah kader yang berkualitas dan tangguh, kader yang memahami bahwa ia berada di jalan dakwah yang panjang. Yang membutuhkan tenaga besar untuk melaluinya. Tentu saja ia bukan kader yang diculik, ia adalah kader yang dibentuk dalam proses tarbiyah islamiyah.

21 November 2009 Ditulis oleh caturcakep | Keluarga Muslim Psikologi | | Belum Ada Tanggapan

sedikit tentang autis

Sebagai salah satu hambatan dalam perkembangan, autis pada anak sering kali tidak tampak pada usia awal-awal kelahiran. Bahkan terkadang orang tua bisa saja terlambat mengetahui bahwa anaknya seorang berkebutuhan khusus autis. Bahkan ada orang tua yang salah memahami bahwa anak autis itu merupakan gangguan mental, sehingga menyebabkan penanganan yang salah oleh orang tua.

Mengenali gejala awal autis merupakan langkah yang tepat untuk mengetahui kondisi anak. Gejala-gejala autis bisa jadi akan tampak serupa dengan gejala anak berkebutuhan khusus yang lain. Oleh karena itu memastikan gejala anak berkebutuhan khusus sangat penting, agar tidak terjadi kesalahan dalam proses penanganannya atau dalam memberikan pendidikan bagi anak. Perlu ditekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam melakukan deteksi dan penanganan terhadap anak berkebutuhan khusus.

Deteksi terhadap anak berkebutuhan khusus autis dapat dilakukan pada anak usia awal sekolah dasar. Pada usia ini gejala autis sudah dapat dipastikan akan tampak pada anak autis. Walaupun gejala autis dapat dilihat pada anak usia sekitar 2 tahun, namun terkadang orang tua belum meyakini dengan pasti bahwa itu merupakan gejala autis. Oleh karena itu usia sekolah menjadi waktu yang cukup tepat untuk melihat dan melakukan penanganan terhadap anak autis.

Gejala autis yang paling mudah diketahui adalah melalui gangguan kualitatif pada interaksi sosialnya. Anak autis pada umunya gagal dalam menunjukkan perilaku keakraban yang biasanya ditemui terhadap orang tua dan orang lain, misalnya senyuman dan kontak mata. Anak autis juga sering tidak mampu membedakan orang yang paling penting dalam kehidupannya, seperti orang tua dan saudara. Sehingga anak autis hampir tidak pernah menunjukkan kecemasan pada saat berpisah atau ditinggal di lingkungan asing dengan orang asing (Widyawati, 1997 ; Moetrarsi, 2000). Anak autis sulit mengerti apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Ekspresi wajah orang lain, senyuman atau tangisan hampir dikatakan tidak memberi arti apapun bagi anak autis. Sehingga kehidupan sosialnya akan terganggu (Hartono, 2002).

Anak autis tidak mempunyai pola biasa dalam perkembangan bahasa. Perilaku berbahasa mereka bervariasi, ada yang tidak pernah berbicara, ada yang lancar berbicara namun memiliki masalah pada penggunaan kata dan pengertia bahasa, ada yang berbicara hanya mengulang kata-kata orang lain (Sutadi, 1997; Pusponegoro, 1997).

Anak autis juga sering menunjukkan gerakan berulang-ulang walaupun tidak ada masalah pada otot-otonya. Mereka juga tidak peduli pada anak yang lain serta lebih suka bermain sendiri. Mereka dapat bermain berjam-jam dan cenderung diulang-ulang (Hartono, 2002)

Anak autis juga terkadang mengalami gangguan emosi. Misalnya perubahan emosi tiba-tiba, ledakan tertawa atau menangis tiba-tiba tanpa sebab yang jelas (Moetrersi, 2000). Beberapa menunjukkan tingkah laku hiperaktif, agresif, impulsif, serta destruktif . Respon terhadap stimulus sensorik bisa dapat sangat kurang atau sangat berlebihan. Anak autis seringkali mengabaikan teguran atau ucapan yang tertuju pada dirinya. tapi sering menunjukkan minat yang tidak biasa seperti mendengarkan dengan penuh perhatian detak arloji, atau melukai diri sendiri tanpa merasakan sakit (Hartono, 2002)

 

he he he. tulisan diatas adalah latar belakang+ dasar teori praktikum OW ku….

10 November 2009 Ditulis oleh caturcakep | psikologi | | & Komentar

curhat tentang kecelakaan jum’at malam

kemarin, jum’at malam sehabis maghrib, ketika dalam perjalanan ke jogja, aku terjatuh dari sepeda motor di daerah blabak. yah… tangan kanan lecet-lecet, sedangkan telapak tangan kiri terkilir. sempat pengen nangis, karena telepon bapak sama emak ga masuk-masuk. “waduh kok ngerasa sendirian aja ya”. untungya ada warga yang mau nemanin bentar. akhirnya aku hubungi kakak di kalimantan, untuk memberi tahu kabar ku. dari sanalah aku ditolong oleh teman kakak. kakak segera menghubungi temannya yang di dekat rumah dan yang didekat blabak. akhirnya aku di antar pulang oleh teman kakak. sementara “belalalng tempur” terkapar di pom bensin didepan lokasi kecelakaan.
belalang tempur kondisinya, cukup parah di bagian kanannya. lampu pecah, spion lepas. knalpot miring, rem dan tempat kaki juga sama, dan yang serius adalah “letter T” (kata bapak, kalau letter T rusak bisa bahaya tuh belalang tempur).
tapi tentu saja ada hikmah dari peristiwa itu:
1. Allah lagi menegurku –> tandanya Allah sayang sama aku (cie…cie…)
2. bisa nginap di rumah, udah lebih dari sebulan ga pulang
3. bisa naik bis ke jogja lagi (menikmati masa-masa sebelum ada belalang tempur)

14 Agustus 2009 Ditulis oleh caturcakep | self | | & Komentar